Senin, 28 Januari 2013

Keluarga Sultan Alaidin Mahmudsyah Bantah Klaim Makam Muyang Kute

Selasa, 4 December 2012 | 10:35



 

Banda Aceh-Keluarga besar Yayasan Sultan Alaidin Mahmudsyah II yang berdomisili di Banda Aceh bergerak di bidang kemanusiaan, keagamaan dan sosial, dengan wilayah tugas dalam Propinsi Aceh, ingin menjelaskan mengenai rencana mengadakan acara haul keluarga pada tanggal 1 Muharam bersamaan tanggal 15 Nopember 2012 dimakam Muyang Kute yang terletak desa Belang Jorong, Pondok Baru, Kecamatan Bandar ,Kabupaten Bener Meriah.

Pembina Yayasan Sultan Alaidin Mahmudsyah II Sulaiman menyampaikan munculnya haul adalah berdasarkan amanat dan wasiat indatu mereka Sultan Alaidin Mahmudsyah II sebelum menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 1904 di Bener Meriah.

Dimana saat itu, telah mewasiatkan kepada empat imeumnya untuk disampaikan kepada ayah mertua beliau dan putra tunggalnya.“Wasiat dan amanat tersebut di warisi kepada kami secara turun temurun (generasi ke 3 dan ke 4 turunan Sultan Alaidin Mahmudsyah II),”ujar Sulaiman ketika mengunjungi kantor Harian Rakyat Aceh, Senin (3/12), di Banda Aceh.

Menurut wasiat tersebut, keempat Imeum ini bertindak sebagai Panglima Perang sabil yang juga merawatnya dan menjaga Sultan sehingga akhir hayatnya , imeum empat tersebut bernama, Imeum Malim Putih, Imeum Rais Leubee, Imeum Yusuf dan Imeum Dai'. Sejak Sultan memutuskan untuk tidak lagi duduk di istana, beliau secara terus -menerus bergerilya melakukan perang sabil melawan belanda sehingga akhir hayatnya, jutaan rakyat yang syahid berjuang bersamanya sehingga Sultan wafat di usia 48 tahun di Bener Meriah.

Jasad beliau ghaib di dalam keranda sewaktu keranda di letakan di bawah pohon kasturi, disamping nya juga terdapat pohon Pisang Raja yang di lingkari pohon tumpang Sirih. Pada waktu itu hujan yang sangat lebat, angin kencang serta kelelahan berjalan , walaupun wasiatnya empat imeum tidak boleh berhenti sepanjang perjalanan sehingga tiba di tempat yang dituju, sebelum berehat para imeum ini menutup keranda dengan daun -daun supaya jasadnya tidak basah, dan setelah hujan lebat dan angin kencang berhenti para imeum ini mengangkat kembali keranda ternyata sudah ringan dan di lihat jasad almarhum sudah tidak ada lagi, setelah hilangnya jasad Sultan Alaidin Mahmudsyah II di dalam keranda, maka ke empat imeum inilah yang mengambil batang dan daun pisang serta pohon tumpang sirih di masukan ke dalam kain kafan di dalam keranda untuk di makamkan keranda serta isinya bersebelahan pohon kasturi tersebut.

Sultan Alaidin Mahmudsyah sewaktu hidupnya telah menjadikan Bener Meriah ini sebagai benteng pertahanan perang dan perkampungan sebagai pusat pertahanan terakhir perang sabil di Aceh melawan Belanda dan jutaan nyawa masyarakat Aceh (pesisir dan Gayo) syahid demi mempertahankan bangsa, agama dan bumi Aceh. Tidak ada istilah menyerah sehingga titisan darah yang terakhir mempertahankan marwah bangsa Aceh di bumi Bener Meriah.

Menurutnya, pada saat itu, Sultan Alaidin Mahmudsyah II masih sebagai Sultan Aceh yang berdaulat di kalangan para pejuang sabil dan juga sebagai panglima tertinggi angkatan perang sabil melawan belanda dan sejarah mencatat inilah sejarah peperangan sabil melawan belanda yang terbesar di Aceh terjadi di bumi gayo .

Sewaktu hidup beliau tinggal di Bener Meriah , Sultan Alaidin Mahmudsyah II ada membai'at dan mengajarkan ilmu tauhid kepada sebahagian masyarakat setempat , beliau juga mengangkat masyarakat Gayo setempat sebagai anak dan saudaranyanya sendiri dan tidak semua masyarakat mengetahui bahwa beliau adalah Sultan Alaidin Mahmudsyah II sewaktu di Bener Meriah, hanya para imeum,panglima, juga keluarga mertuanya serta anak didik bai'atnya saja yang mengetahui. kerahasian beliau sebagai Sultan dijaga oleh masyarakat Gayo karena kondisi perang dengan Belanda dan pergolakan politik di Kuta Raja.

“Begitulah sedikit cerita sejarah yang di tinggalkan kepada kami untuk di kenang jasa beliau berjuang bersama rakyat Aceh di tanah Gayo untuk mempertahankan kedaulatan bumi leluhor Aceh Darusalam yang berdaulat tentunya, masih banyak lagi sejarah riwayat hidup beliau yang diceritakan ke kami secara turun temurun yang tidak di uraikan disini,”pungkasnya.(slm)(Bersambung)

3 komentar:

  1. Menurut kami, itupun sah sah saja,pak..tapi kalau kami dari seletan ini yang mengklaim..baru aneh..

    BalasHapus
  2. hehehe... harusnya dari pihak keluarga yang harus lebih dulu proaktif ya...

    BalasHapus