Kamis, 27 Desember 2012

Pecah Perang Antara Aceh vs Amerika Serikat (1832)

 
Ruslan Jauhari   The First Sumatra Expedition the Battle of Quallah Battoo (Kuala Batee) in 1832
 
Saat itu, 7 Februari 1831, sebuah kapal milik Amerika Serikat berlabuh di Kuala Batee, Aceh Barat Daya (sebelum pemekaran masuk wilayah Aceh Selatan). Kapal bernama Friendship itu dinakhodai Charles Moore Endicot. Kapal ini datang ke Kuala Batee untuk membeli lada di Kuala Batee yang ketika itu menjadi salah satu pusat perdagangan lada Aceh.

Tiba di daratan, kapal itu dibajak sekelompok penduduk Kuala Batee. Tiga awak kapal terbunuh. Kerugian diperkirakan sebesar US$ 50 ribu. Beruntung, kapal itu diselamatkan oleh kapal Amerika lain yang sedang melintas di perairan Kuala.

Peristiwa itu tertuang dalam buku karya M.Nur El Ibrahimy berjudul Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh. Ibrahimy menulis, setiap tahun diangkut sekitar 3 ribu ton lada dari Aceh untuk dijual ke benua lain, dari Amerika hingga Eropa.


Pembajakan itu menimbulkan tanda tanya besar bagi Amerika. Sebab, itulah kali pertama kapal Amerika dibajak. Menurut Ibrahimy, peristiwa itu dipicu kemarahan orang Aceh karena merasa selalu ditipu Amerika dalam perdagangan lada. Pernah kejadian, ketika dibeli berat ladanya 3.986 pikul, tapi ketika dijual kembali oleh Amerika beratnya menjadi 4.583 pikul.

Rupanya, pedagang Amerika berlaku curang dengan memalsukan takaran timbangan. Caranya? "Melalui sebuah sekrup yang dapat dibuka di dasar timbangan yang berbohot 56 lbs., diisi 10 atau 15 pon timah sehingga dalam satu pikul lada orang Aceh dikecoh sebanyak 30 kati,” tulis Ibrahimy.

Itu hanya satu faktor. Penyebab lain, Belanda berhasil memprovokasi orang Aceh untuk menyerang kapal-kapal Amerika. Tujuannya, Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh sehingga terkesan tidak mampu melindungi kapal asing yang berlabuh di Aceh.

Tentu saja Kerajaan Aceh sibuk memberi klarifikasi. Belakangan, diketahui Belanda yang membayar dan mempersenjatai kapal Aceh yang dikhodai Lahuda Langkap untuk menyerang kapal Amerika dengan menggunakan bendera Kerajaan Aceh.

Lepas dari pembajakan, Kapal Friendship itu kembali ke Amerika. Dan, kabar pembajakan pun tersiar dan membuat geram sejumlah pejabat Amerika. Apalagi, salah satu pemilik kapal itu adalah Senator Nathanian Silsbee. Silsbee pun menyurati Presiden Jackson dan meminta Amerika menuntut ganti rugi atas kerugian yang dialami, dan mengirim kapal perang ke perairan Aceh. Surat serupa juga dikirim Robert Stones, pemilik kapal yang lain, mendesak Menteri Angkatan Laut, Levy Woodbury agar mengirim kapal perang ke Aceh.

Singkat cerita, Presiden Jackson setuju. Maka, dikirimlah kapal perang Potomac ke Aceh. Ini adalah kapal perang terbaik yang dimiliki Amerika saat itu. Berangkat dari New York, kapal ini tiba di Aceh pada 29 Agustus dengan membawa 260 marinir.


Perang pecah menjelang matahari terbit pada 6 Februari 1832. Warga Kuala Batee yang sudah mencium kedatangan kapal Amerika itu bersiap-siap di pantai Kuala Batee. Amerika menyerbu benteng-benteng perlawanan. Sayangnya, Ibrahimy tak menyebut berapa orang Aceh yang terbunuh. Namun, katanya, penyerangan itu juga menyasar anak-anak dan wanita. Di pihak Amerka, dua tewas dan sembilan luka-luka.

Sebelum meninggalkan Kuala Batee, Kapal Potomac menembakkan pelabuhan dengan meriam. Pelabuhan yang disebut Amerika dengan Kuallah Battoo itu pun tinggal puing-puing.

Tak semua orang Amerika setuju dengan penyerangan itu. Media bisnis di Amerika, Nile's Weekly Register mengecam habis penyerangan itu. Namun, oleh Presiden Jackson, peristiwa itu berusaha ditutupi. "Peristiwa pembakaran Kuala Batee oleh marinir Amerika telah dipeti-eskan," tulis M Nur El Ibrahimy.

Penyerangan Kuala Batee pun hilang bersama waktu.
Pecah Perang Antara Aceh vs Amerika Serikat (1832) 

Saat itu, 7 Februari 1831, sebuah kapal milik Amerika Serikat berlabuh di Kuala Batee, Aceh Barat Daya (sebelum pemekaran masuk wilayah Aceh Selatan). Kapal bernama Friendship itu dinakhodai Charles Moore Endicot. Kapal ini datang ke Kuala Batee untuk membeli lada di Kuala Batee yang ketika itu menjadi salah satu pusat perdagangan lada Aceh.

Tiba di daratan, kapal itu dibajak sekelompok penduduk Kuala Batee. Tiga awak kapal terbunuh. Kerugian diperkirakan sebesar US$ 50 ribu. Beruntung, kapal itu diselamatkan oleh kapal Amerika lain yang sedang melintas di perairan Kuala.

Peristiwa itu tertuang dalam buku karya M.Nur El Ibrahimy berjudul Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh.  Ibrahimy menulis, setiap tahun diangkut sekitar 3 ribu ton lada dari Aceh untuk dijual ke benua lain, dari Amerika hingga Eropa. 


Pembajakan itu menimbulkan tanda tanya besar bagi Amerika. Sebab, itulah kali pertama kapal Amerika dibajak. Menurut Ibrahimy, peristiwa itu dipicu kemarahan orang Aceh karena merasa selalu ditipu Amerika dalam perdagangan lada. Pernah kejadian, ketika dibeli berat ladanya 3.986 pikul, tapi ketika dijual kembali oleh Amerika beratnya menjadi 4.583 pikul.

Rupanya, pedagang Amerika berlaku curang dengan memalsukan takaran timbangan. Caranya? "Melalui sebuah sekrup yang dapat dibuka di dasar timbangan yang berbohot 56 lbs., diisi 10 atau 15 pon timah sehingga dalam satu pikul lada orang Aceh dikecoh sebanyak 30 kati,” tulis Ibrahimy.

Itu hanya satu faktor. Penyebab lain, Belanda berhasil memprovokasi orang Aceh untuk menyerang kapal-kapal Amerika. Tujuannya, Belanda ingin merusak nama baik Kerajaan Aceh sehingga terkesan tidak mampu melindungi kapal asing yang berlabuh di Aceh.

Tentu saja Kerajaan Aceh sibuk memberi klarifikasi. Belakangan, diketahui Belanda yang membayar dan mempersenjatai kapal Aceh yang dikhodai Lahuda Langkap untuk menyerang kapal Amerika dengan menggunakan bendera Kerajaan Aceh.

Lepas dari pembajakan, Kapal Friendship itu kembali ke Amerika. Dan, kabar pembajakan pun tersiar dan membuat geram sejumlah pejabat Amerika. Apalagi, salah satu pemilik kapal itu adalah Senator Nathanian Silsbee. Silsbee pun menyurati Presiden Jackson dan meminta Amerika menuntut ganti rugi atas kerugian yang dialami, dan mengirim kapal perang ke perairan Aceh. Surat serupa juga dikirim Robert Stones, pemilik kapal yang lain, mendesak Menteri Angkatan Laut, Levy Woodbury agar mengirim kapal perang ke Aceh.

Singkat cerita, Presiden Jackson setuju. Maka, dikirimlah kapal perang Potomac ke Aceh. Ini adalah kapal perang terbaik yang dimiliki Amerika saat itu. Berangkat dari New York, kapal ini tiba di Aceh pada 29 Agustus dengan membawa 260 marinir. 


Perang pecah menjelang matahari terbit pada 6 Februari 1832. Warga Kuala Batee yang sudah mencium kedatangan kapal Amerika itu bersiap-siap di pantai Kuala Batee. Amerika menyerbu benteng-benteng perlawanan. Sayangnya, Ibrahimy tak menyebut berapa orang Aceh yang terbunuh. Namun, katanya, penyerangan itu juga menyasar anak-anak dan wanita. Di pihak Amerka, dua tewas dan sembilan luka-luka.

Sebelum meninggalkan Kuala Batee, Kapal Potomac menembakkan pelabuhan dengan meriam. Pelabuhan yang disebut Amerika dengan Kuallah Battoo itu pun tinggal puing-puing.

Tak semua orang Amerika setuju dengan penyerangan itu. Media bisnis di Amerika, Nile's Weekly Register mengecam habis penyerangan itu. Namun, oleh Presiden Jackson, peristiwa itu berusaha ditutupi. "Peristiwa pembakaran Kuala Batee oleh marinir Amerika telah dipeti-eskan," tulis M Nur El Ibrahimy.

Penyerangan Kuala Batee pun hilang bersama waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar