Kamis, 27 Desember 2012

Merangkai Kembali Identitas Aceh

OPINI | 27 December 2012 | 11:18  Iskandar Fasad, Kompasiana.com

Menjelang akhir tahun 2012 ini, isu yang masih menjadi pembicaraan khalayak ramai di Aceh adalah persoalan identitas Aceh. Persoalan ini menjadi sangat penting ketika muncul berbagai polemik di tengah masyarakat yang berkaitan dengan sejarah, asal usul dan juga tentu konspirasi yang selama ini menjadi pertanyaan di benak masyarakat Aceh.

Syahdan, kejayaan Aceh dimulai pada sekitar Abad 16 di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, yang ketika itu memiliki kekuasaan hingga pesisir barat Minangkabau hingga ke Perak (Malaysia saat ini). Hubungan dagang yang ditopang dengan pelabuhan-pelabuhan berkelas internasional saat itu menjadikan Aceh negeri yang makmur dan sejahtera. 

Hubungan internasional Aceh pertama dibangun dengan kerajaan Inggris dimana Ratu Elizabeth I “the Virgin” mengirimkan utusannya ke Aceh yaitu Sir James Lancaster untuk menghadap Sultan Aceh guna meminta izin agar kapal-kapal Kerajaan inggris dapat berlabuh untuk berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Terbukanya hubungan internasional pertama Aceh inilah yang menjadikan Aceh mulai terkenal sebagai salah satu pelabuhan terbaik pada masa itu hingga mulai berdatangan tamu-tamu asing lainnya seperti Belanda, Perancis, Turki dan negara-negara di Eropa lainnya.
 
Ketika Kesultanan Aceh berdiri saat itu, masyarakat Aceh telah lama hidup berdampingan dalam damai dengan 13 suku-suku yang ada di Aceh, seperti Aceh, Gayo, Aneuk Jamee, Singkil, Alas, Tamiang, Kluet, Devayan, Sigulai, Pak Pak, Haloban, Lekon dan Nias. Pemimpin Aceh menjadikan keberagaman suku -suku di Aceh sebagai kekuatan dan warna-warna yang menjadi daya tarik Aceh kala itu. 

Namun sayang, perjalanan kejayaan Aceh terputus sepeninggal Sultan Islandar Muda diikuti dengan kedatangan Belanda pada tahun 1873 yang membangkitkan perlawanan rakyat. Rakyat Aceh tetap tegar kala itu meskipun Sultan M Dawud terpaksa menyerah kepada Belanda karena anak dan istrinya telah ditangkap terlebih dahulu. Perlawanan terus berlanjut hingga akhirnya kolonialisme Belanda berhasil diusir dari Republik.

Perjalanan singkat sejarah Aceh di atas menggambarkan betapa tegarnya masyarakat Aceh yang memiliki keterikatan sejarah dan asal usul yang sama yaitu sebagai “orang Aceh”. Semuanya berjuang dan berusaha mewujudkan damai dalam keberagaman. Tidak satupun catatan sejarah yang menyebutkan adanya gesekan antar suku-suku di Aceh, karena semuanya berfikir dan berbuat untuk kebaikan bersama.

 Hal ini berbanding terbalik dengan realitas yang terjadi saat ini. Identitas Aceh masa lalu “dijungkirbalikkan” dengan isu-isu yang bertujuan polarisasi kekuatan pada kelompok mayoritas. Sejarah pun diputus hingga “seolah-olah” Aceh baru mulai ada sejak adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kreasi Hasan Tiro. Penandatanganan MoU Helsinki seolah menjadi “kemenangan” kelompok mayoritas terhadap kelompok-kelompok minoritas dengan “mendisain ulang” sejarah Aceh yang dimulai sejak tahun 1976.

Pengaburan Sejarah Aceh ini terus terjadi hingga identitas Aceh yang dimulai sejak abad ke-16 secara pelahan mulai dilupakan. Perjuangan sejak Sultan Iskandar Muda hingga Cut Nyak Dhien tidak lagi dikenal masyarakat, namun hanyalah perjuangan Hasan Tiro dengan GAM-nya. Semuanya sedang dan tengah terjadi di Aceh. 

DPRA mengesahkan qanun Wali Nanggroe yang terlampau diskriminatif dengan syarat harus dapat berbahasa Aceh. Artinya tidak seorangpun dari suku-suku Aceh yang tidak berbahasa Aceh dapat menjadi Wali Nanggroe. Sebaliknya, Wali Nanggroe yang merupakan wali di negeri syariah ini tidak memiliki kewajiban untuk dapat membaca Alquran. 

Lebih jauh, pemilihan bendera dan lambang Aceh yang digagas DPRA sama sekali tidak mencerminkan keberagaman suku dan semangan perdamaian serta mencerminkan cita-cita perjuangan Aceh yang hakiki yaitu hidup berdampaingan dalam damai dan sejahtera. Semua lambang dan identitas dipalsukan dengan lambang dan bendera yang merupakan simbol-simbol perjuangan GAM.  

Sampai disini, dimana sejarah Aceh? apa tujuan dan makna dari upaya yang dilakukan oleh wakil-wakil rakyat Aceh itu?

Merangkai Kembali Identitas Aceh

Keadaan ini tentu sangat jauh dari gambaran harapan damai semua masyarakat Aceh. Identitas suatu bangsa hendaknya merupakan kesepakatan dan komitmen bersama seluruh warganya yang tetap berpedoman pada sejarah dan asal usulnya. Sejarah perjalanan Aceh yang panjang perlu menjadi tonggak kebangkitan dan sekaligus pemicu semangat untuk kembali mencapai masa-masa gemilang dalam sejarahnya. 

 Semangat dan keinginan bersama untuk tetap berada pada satu wilayah, perlu keyakinan dan kepercayaan. Keyakinan dan kepercayaan kepada identitas keacehan yang pernah dimiliki oleh rakyat Aceh di masa lampau yang selalu berfikir dan berbuat untuk kebaikan bersama, bukan hanya kebaikan kelompok mayoritas. (Atjehgroup)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar