Rabu, 20 Mei 2015

Membaca Filosofi Songket Aceh

atjehpost.com

Pesona songket Aceh telah dikenal sejak berabad-abad silam. Ragam hiasnya yang mengutamakan keindahan flora disebut-sebut sebagai representasi Taman Firdaus.


GAMPÔNG Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar petang itu sangat lengang. Mendung mulai menggantung saat saya memasuki sebuah gang kecil bertuliskan “Songket Aceh Nyak Mu”. Jika tidak diperhatikan, plang yang terbuat dari kayu ini hampir tak kelihatan karena aus oleh usia.

Kedatangan saya untuk bertemu Dahlia, generasi penerus Nyak Mu alias Maryamu, si penjaga warisan tenun Aceh yang melegenda. Nyak Mu sendiri telah meninggal dunia sejak 2009 lalu.

Tak sulit mencari rumah perempuan paruh baya itu. Sebagai anak Nyak Mu, Dahlia sangat dikenal di Gampông Siem. “O, Kak Dah, nyan rumoh gopnyan, neujak laju. Na gopnyan i rumoh (O, Kak Dah, itu rumahnya, pergi saja. Ada dia di rumah),” ujar seorang warga.

Saya pun segera menuju ke rumah Dahlia yang tak jauh dari tempat tadi. Setelah menguluk salam, seorang perempuan paruh baya muncul dari dalam. Ia mengenakan daster batik dan kepalanya ditutupi kerudung besar. Senyumnya mengembang ramah. “Nye lôn Dahlia,” katanya memperkenalkan diri seraya mempersilakan masuk.

Dahlia, 53 tahun, merupakan satu-satunya anak perempuan Nyak Mu. Ia satu dari lima warga Siem yang sampai kini masih mempertahankan tradisi menenun. Diakui Dahlia, warga Siem umumnya generasi muda, tidak lagi berminat menekuni tenun Aceh.

Proses menenun memang membutuhkan ketelatenan tingkat tinggi, sabar, dan harus benar-benar sepenuh hati.

“Dari lima itu hanya saya sendiri yang bisa membuat motif, yang lainnya cuma bisa menenun saja. Kalau mereka mau menenun, saya datang untuk memasangkan motif,” kata Dahlia saat berbincang dengan The Atjeh Post akhir Desember 2014 lalu.

Kerajinan tenun Aceh di Gampông Siem mulai tumbuh sejak awal 1970-an. Dahlia berkisah, ketika itu ada pegawai dari Dinas Perindustrian yang datang ke kampungnya untuk mencari orang yang mampu menenun. Orang tersebut adalah Nyak Mu, yang mendapatkan keahlian menenun dari ibunya. Nyak Mu kemudian menjadi guru dalam setiap pelatihan menenun yang dibuat oleh dinas. Dinas juga sering membawa Nyak Mu ke luar daerah untuk mempelajari seni tenun daerah lain. “Saya ini juga murid Nyak Mu,” kata Dahlia lagi.

Murid Nyak Mu tak hanya berasal dari Siem atau Aceh Besar saja, tapi juga berasal dari daerah lain, seperti Calang dan Aceh Timur. Merekalah yang membawa kerajinan tenun Aceh tersebut ke daerah lain. Namun, perkembangan tenun Aceh di luar Siem tidak begitu masif, gaungnya pun hampir tak pernah terdengar.

Berkat kerja keras dan kegigihan Nyak Mu, Siem kemudian dikenal sebagai sentra dan tempat asal mula tenun Aceh berkembang. Melalui tangan dinginnya, songket Aceh mencapai puncak kejayaannya.

Meski tak dapat menulis dan membaca, Dahlia mengatakan, ibunya adalah perempuan yang cerdas dan ingatannya sangat tajam. Hal ini dibuktikan dengan kreativitasnya dalam mengembangkan motif songket Aceh. Tercatat ada 50 motif songket Aceh yang pernah dibuat Nyak Mu, di antaranya motif Pucok Aron, Pucok Reubong, Mata Manok, Bu Kulah, Lidah Tiyong dan motif Laa Ila Haillallah. Dinas Perindustrian Aceh pernah membukukan karya-karyanya pada 1992 silam.

Nyak Mu ibarat lentera yang telah membuat tenun Aceh begitu termasyhur. Namun, seiring dengan padamnya lentera itu, kejayaan tenun Aceh pun seolah ikut redup. Dahlia mengakui, sejak ibunya meninggal dunia, aktivitas menenun di Siem menurun drastis. Menenun menjadi pekerjaan sampingan.

Bahkan, Rumoh Teupeuen atau Rumah Tenun yang didirikan Dinas Perindustrian Aceh di kampung itu tidak lagi aktif. Dahlia sendiri kini tidak lagi menenun secara rutin. Ia hanya menyediakan bahan baku bagi sejumlah warga yang masih menenun. Keterbatasan bahan baku, seperti sutera dan benang emas yang didatangkan dari luar memang menjadi kendala. Selain itu, Dahlia juga merasakan stamina fisiknya tidak lagi seperti dulu. Ia sempat berpikir untuk tidak lagi menggeluti dunia tenun.

“Tapi abang saya bilang kita lanjutkan saja karena ini ciri khas kita (Siem), nanti soal pengadaan bahan baku biar abang saya yang urus,” katanya.

+++

SONGKET merupakan kain yang ditenun atau dihias dengan benang emas dan perak. Jauh sebelum Nyak Mu kembali memopulerkan songket Aceh, berabad-abad silam songket Aceh menjadi komoditas perdagangan yang bernilai tinggi.

Tenaga pengajar Universitas Syiah Kuala, Erni S.Pd., M.Pd. T. dalam disertasinya berjudul “Songket Aceh” menjelaskan, songket Aceh merupakan salah satu seni karya yang menggabungkan berbagai unsur budaya.

Lulusan Magister Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Padang ini banyak mengulas perjalanan songket Aceh. Hal itu merupakan pengetahuan yang jarang diketahui banyak orang, termasuk Dahlia dan salah seorang murid Nyak Mu lainnya Jasmani. Dahlia mengakui jika pengetahuannya tentang songket sangat terbatas. Ia memang bisa menenun, tetapi seluk beluk tentang filosofi motif songket sedikit sekali yang ia ketahui.

Dalam disertasinya, Erni berhasil menyajikan temuannya tentang asal-usul songket Aceh, seperti catatan paling tua tentang tenun sutera di Aceh yang dijabarkan dalam kitab Sung (abad ke-10 dan ke-11) yang menjelaskan tentang produksi tenun di Pidie.

Pada permulaan abad ke-16, Pidie tetap merupakan daerah penghasil sutera yang penting. Bahkan sampai dikirim ke India karena jumlah produksinya yang melimpah. Hingga satu abad kemudian popularitasnya masih belum meredup. Orang-orang dari Prancis dan Belanda membicarakan kualitas sutera Pidie yang terkenal di seluruh Sumatera.

Selain itu Erni juga berhasil menelusuri catatan pada abad ke-17 tentang sutera yang dihasilkan di ibu kota. Dijelaskan bahwa sutera dari Aceh memiliki mutu yang sangat tinggi sehingga harganya lebih mahal dari sutera yang diimpor dari India.

Memasuki abad ke-19, produksi sutera menyebar ke pesisir barat. Aceh Besar dan Pidie tetap menjadi mercusuar untuk songket Aceh.

Dari segi penggunaan bahan baku, sutera Aceh yang bermotif benang emas merupakan pengaruh dari Persia. Pada awal abad ke-20, seorang ahli Etnologi asal Belanda, Kreemer, menghimpun koleksi desain songket Aceh yang sangat bagus. Bahkan sampel tekstil sutera Aceh ada yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda.

Saat berbincang-bincang dengan The Atjeh Post pada awal Januari 2015, Erni juga menjelaskan, ragam hias atau motif songket Aceh hampir tidak pernah ditemui corak binatang atau manusia, tetapi motif-motif dari benda, awan, dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini berbeda dengan motif-motif kain yang lazimnya kita temukan di Jawa atau Indonesia timur. “Islam sebagai landasan yang dipegang teguh oleh orang Aceh mengambil inspirasi motif dalam membuat songket dari unsur alam yang tidak bernyawa seperti flora dan awan,” katanya.

Dalam buku Hands of Time yang ditulis oleh Leigh (1989) dijelaskan, kekayaan motif flora ini juga dikait-kaitkan dengan taman dan alam tumbuh-tumbuhan dengan Taman Firdaus di surga.

Setiap motif memiliki makna berbeda-beda, tapi tidak semuanya dapat diungkapkan. Motif Pucok Reubong dan Awan Berarak misalnya, memiliki makna sebagai simbol kesuburan, kebersamaan, dan gotong royong. “Motif Pucuk Rebung ini juga terdapat di daerah lain seperti Palembang, tapi maknanya rebung sebagai salah satu tanaman yang bisa dikonsumsi,” katanya.

Adapun motif Bungong Jeumpa diambil dari keindahan bunga jeumpa (cempaka) yang menjadi flora identitas Provinsi Aceh. Bunga ini begitu tersohor dan keindahannya juga terdapat dalam syair lagu “Bungong Jeumpa”.

Erni menaruh perhatian tinggi pada songket Aceh karena keberadaannya yang kian langka. Akibat pergeseran zaman dan pengaruh modernisasi, banyak masyarakat Aceh yang kurang mengetahui keberadaan songket Aceh.

“Padahal dulu begitu megahnya, sayang sekali kalau ini sampai terabaikan. Malah banyak yang nggak tahu di Siem ada tenun songket, jadi saya berinisiatif untuk membuat penelitiannya sebagai pertinggal. Barangkali nanti ada anak-anak sekolah yang mau belajar, mereka sudah ada modulnya,” ujarnya.

+++

DAHLIA mengajak saya ke rumah almarhum Nyak Mu yang tak begitu jauh dari rumahnya. Sebuah rumoh Aceh berdiri tegak, tetapi kondisinya tampak tak terawat. Halamannya dipenuhi rumput liar. Di samping rumah ada sebuah bangunan permanen beratapkan seng. Kondisinya sama, juga tak terawat. “Ini Rumoh Teupeuen atau Rumah Tenun,” kata Dahlia.

Rumah tersebut dibangun oleh Dinas Perindustrian Aceh pada 1981. Di Rumoh Teupeuen inilah Nyak Mu menghabiskan masa hidupnya untuk mengajar tenun songket Aceh. Di dalam rumah terdapat tujuh teupeun atau tijak (alat tenun). Namun hanya satu yang terlihat sedang digunakan. Rumoh Teupeun ini sudah tidak aktif lagi sejak Nyak Mu meninggal dunia. Dahlia menyayangkan kondisi tersebut, tetapi mengaku tak sanggup mengelolanya seperti yang dilakoni Nyak Mu semasa hidupnya.

Dahlia mengajak ke bagian lain, mungkin lebih tepat disebut dapur. Kondisinya sangat berantakan dan berdebu. Di sini terdapat tungku yang dulu digunakan Nyak Mu untuk merebus air untuk mewarnai benang sutera. Di dekat tungku ada sebuah bak yang sebelumnya berfungsi sebagai tempat untuk merendam sutera. Selain menggunakan pewarna pabrikan, Nyak Mu juga lihai meracik bahan-bahan alam untuk mewarnai sutera sebelum ditenun.

Di ruangan ini juga terlihat gulungan-gulungan sutera yang berserakan di atas dipan. Sutera itu merupakan bantuan dari pemerintah, tetapi tidak dapat digunakan karena seratnya sangat halus. Tidak cocok untuk bahan tenun yang dilakukan secara manual karena mudah putus. Selama ini bahan baku yang digunakan untuk membuat tenun Aceh didatangkan dari Bandung. Awal menjalankan usahanya Nyak Mu memasok sutera dari Lamtamot, Aceh Besar. Belakangan peternakan sutera tersebut tutup karena konflik. “Pekerjanya kembali ke Jawa,” katanya.

Usai melihat-lihat Balèe Teupeuen, Dahlia mengajak saya kembali ke rumahnya. Ibu lima anak itu kemudian mengeluarkan sejumlah koleksi kain tenun miliknya. Dahlia sendiri, meski bisa menenun dan membuat motif, tidak dapat menggambar motif seperti keahlian yang dimiliki Nyak Mu. Kata murid Nyak Mu di Gampông Miruek Taman, Jasmani, inilah yang membuat Nyak Mu sangat istimewa. “Dia itu profesor bagi kami,” kata Jasmani kepada The Atjeh Post.

Setelah menunjukkan beberapa koleksi songketnya, Dahlia kemudian memperlihatkan selembar kain berukuran 50 x 50 sentimeter. Kain warna cokelat tanah yang pinggirnya sudah sobek itu berisi aneka motif Aceh yang selama ini dijadikan patron oleh Nyak Mu dalam mengembangkan songket Aceh. Usianya sudah dua ratusan tahun, kain tersebut merupakan pusaka yang diwariskan secara turun-temurun. “Ini sudah ada yang menawar jutaan rupiah, tapi saya tidak mau jual karena ini kain pusaka,” kata Dahlia.

Dari sekian banyak motif yang dikreasikan Nyak Mu, ada satu motif yang sangat menarik, yaitu motif kaligrafi Laailahaillallah. Meski tidak mengetahui makna yang tersembunyi di balik motif ini, Dahlia mengatakan, songket dengan motif kalimat Laailahaillallah tidak dapat diaplikasikan di sembarang kain.

Hal ini juga dibenarkan Jasmani, perempuan berusia 49 tahun yang kini telah menjadikan tenun sebagai sumber mata pencarian utamanya. “Semasa hidup Nyak Mu dulu, motif itu hanya digunakan untuk membuat peci,” katanya. Sebagai murid Nyak Mu, Jasmani bertekad untuk terus melestarikan tenun Aceh. “Kiban ikhlas Nyak Mu uroe jéh geupeurunoe lôn, lagèe nyan lôn peurunoe gop jinoe (Nyak Mu dulu mengajar saya dengan ikhlas, begitu pula saya mengajar saat ini),” katanya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar