Rabu, 01 Januari 2014

Budjang Salim, Pahlawan “Tanpa Sepuluh November”

Logo The Globe Journal - Original

Nanda Feriana |The Globe Journal
Jum`at, 29 November 2013 21:45 WIB
Di pertengahan bulan November, kisah-kisah kepahlawanan menyeruak di banyak tempat. Cerita-cerita ikhwal perjuangan pun terdengar di berbagai sudut negeri. Di penghujung November seperti saat ini, kisah-kisah tersebut tanpa terasa menghilang secara perlahan. Seolah tenggelam dalam ingatan semua orang dan akhirnya hanya berakhir sebagai peringatan seremonial tahunan. Begitulah.   
Meski tanggal 10 November sudah berlalu, namun “aura” perjuangan itu  tampaknya tak bisa hilang begitu saja. Setidaknya itulah yang selalu dirasakan oleh Atjeh Neuksom, putri bungsu dari Teuku Budjang Salim, salah seorang pahlawan asal Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.
Melalui  Atjeh Neuksom, saya mencoba menggali informasi seputar sejarah Teuku Budjang Salim. Sosok perempuan yang ramah dan bersahaja itu antusias menceritakan sejarah seputar sang ayah tercinta. Sore itu, 15 November 2013, sambil ia duduk di kursi goyang di depan teras rumahnya yang bercat orange muda, dengan santai ia berbagi cerita.
Konon di salah satu Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, tepatnya di Kecamatan Dewantara, lahir seorang putra yang diberi nama Teuku Budjang. Buah cinta dari pasangan Teuku Rieh Mahmud dan Cut Baren ini lahir pada tahun 1891 di desa Meunasah Rayeuk, Nisam. Sang Ayah yang merupakan seorang keturunan Ulee Balangcukup terkenal kala itu.
Kemasyhuran sang ayah diketahui oleh Belanda. Budjang sendiri bahkan sempat di sekolahkan oleh kolonial Belanda di Kweekschool (setingkat SMA) dan Sekolah pemerintahan (hari ini sederajat IPDN). Ketika ia dewasa, Teuku Budjang menikah dengan seorang perempuan asal Desa Tambon Tunong. Tak lama setelah itu, dari pernikahan pertamanya ini ia dikaruniai seorang anak bernama Cut Babuyung. 
Teuku Budjang berdakwah ke banyak tempat. Dengan bekal ilmu agama yang diajarkan oleh orang tuanya, ia mengajak masyarakat untuk menerapkan nilai—nilai ajaran agama islam dalam kehidupan sehari-harinya. Pada masa itu, pergolakan memang sedang terjadi dimana-mana. Belanda sangat menguasai dan menduduki banyak wilayah.  
Tak perlu waktu yang lama, dakwah sembunyi-sembunyi yang disebarkan oleh Teuku Budjang pun terdengar hingga ke telinga para kompeni Belanda. Budjang akhirnya dibuang oleh Belanda ke berbagai daerah di Nusantara seperti ke Purwokerto, Jogja, Semarang, Padang, Medan, Jakarta, hingga Merauke.
Ketika di Padang, Budjang banyak menuntut ilmu agama kepada Syekh Jambek.   Sementara ketika di Meurauke, ia bertemu dan dijodohkan dengan wanita asal Betawi yang bernama Jawiyah. Di Merauke lah, untuk kedua kalinya Budjang menikah. Dari pernikahannya dengan Jawiyah, Budjang dikaruniai 7 orang anak.
Selama di Meurauke, Budjang masih terus menyiarkan ajaran-ajaran islam. Ia mendirikan balai-balai pengajian. Mengetahui pergerakan Budjang yang semakin gencar, kolonial Belanda  panik dan takut jikalau Budjang akan semakin memiliki banyak pengikut.  Tak lama setelah itu, Budjang pun diasingkan oleh Belanda ke Boven Digul, Papua, yakni salah satu tempat pengasingan yang cukup terkenal, terutama karena dijadikan pengasingan sejumlah tokoh nasional, seperti Muhammad Hatta.
Meski terus diintimidasi Belanda, tetapi semangat Budjang berdakwah tidak surut. Ia tidak mau tunduk begitu saja pada Belanda. Ia tetap menyiarkan dakwahnya. Setelah di Boven Digul, Budjang berpindah ke Australia. Selama di perantauan, Budjang terus dikaruniai beberapa orang buah hati. Mereka adalah Budjang Jaya, Djangjakedi, Djang Jahyadi, Babudjangja, Gulyiang Kedi, dan Mackaustrali. Gulyiang Kedi adalah anaknya yang dilahirkan sewaktu ia berada di Boven Digul. Sedangkan Makaustrali adalah anaknya yang lahir di kota Mackay, Australia. Itu sebabnya sengaja diberi nama Makaustrali.
Nama keluarga besar Budjang Salim memang unik. Ada yang mengambil nama –nama benda, dan ada yang mengambil nama pristiwa-pristiwa tertentu.  Di antara nama-nama itu seperti Mapilindo (Pristiwa Malaya Philipina Indonesia), Koko Chili, (Cabai, Kelapa), Homo cosmic (Suka baca komik), Antabeta (saya dan kamu). Menurut Atjeh Neksom, gelar Cut atau Teuku sengaja tidak disematkan untuk menghindari terjadinya perbedaan-perbedaan kelas dalam masyarakat.
Setelah beberapa tahun kemerdekaan tepatnya tahun 1952, Budjang memutuskan pulang kembali ke Aceh. Ia pun membangun kota Krueng Geukuh. Tak lama setelah kepulangannya, ia langsung ditunjuk oleh warga Nisam untuk memimpin Krueng Geukuh. Saat itu ia menjabat sebagai Camat. Kota Krueng Geukuh sendiri sengaja dibuat di pinggir laut  dengan alasan supaya memudahkan transportasi, sehingga roda perekonomian masyarakat menjadi mudah berkembang.
Di tahun tersebut, 1952, lahirlah Atjeh Neuksom. Beliau adalah satu-satunya putri Budjang Salim yang dilahirkan di Aceh. Itu sebabnya namanya sendiri, Atjeh Neksom, memiliki arti “Nanggroe Atjeh Daerah Nisam.”
Pada tahun 1923, sebuah mesjid yang diberi nama dengan mesjid Budjang Salim berdiri di kota Krueng Geukuh. Kata “Salim” itu sendiri merupakan pemberian dari masyarakat Dewantara. Salim berarti “selamat”. Pemberian nama tersebut merupakan wujud syukur masyarakat Nisam karena Budjang telah selamat pulang ke Aceh setelah perjuangan panjangnya menyebarkan dakwah di berbagai pelosok di Indonesia. Ada pula yang memanggilnya dengan Budjang Selamat.
Budjang sangat dicintai oleh orang-orang Nisam. Sosoknya yang dermawan, religius, disiplin, teratur, suka menyantuni anak yatim dan peduli terhadap pendidikan khususnya pendidikan agama membuatnya dielu-elukan oleh seantero masyarakat Nisam dan Krueng Geukuh. Namanya juga cukup tenar di Kabupaten Aceh Utara.
Selain mendirikan Mesjid, Budjang juga membangun pasar, kantor, jalan raya,hingga stasiun. Namanya memang tidak terlalu familiar di Aceh. Tetapi pengaruh Budjang Salim cukup besar, dan ia sangat ditakuti oleh Belanda. Bahkan saat ini, menurut penuturan Atjeh Neuksom, konon foto Budjang Salim dipajangkan di salah satu Meuseum di Belanda.
Setelah berkelana ke banyak pelosok nusantara, dan pulang ke Aceh untuk membangun Kota Krueng Geukuh, di tahun 1961 Budjang Salim pun menghadap yang maha kuasa. Kepergian Budjang Salim mendatangkan kesedihan mendalam bagi masyarakat. Itu sebabnya ia begitu dikenang oleh masyarakat. Dulu sekitar tahun 1970-an hingga 80-an, bila tiba hari 17 agustus sejumlah orang selalu datang beramai-ramai berziarah ke makamnya. Memperingati 17 Agustus, keluarga Budjang juga selalu mendapat undangan khusus untuk menghadiri upacara17-an.
Pada masa itu Pemerintah Kabupaten juga rutin memberikan penghargaan dan bantuan bagi keluarga Budjang. Sesekali juga diadakan acara temu ramah antara keluarga pahlawan dengan Bupati. Namun saat ini, itu semua sudah tidak ada lagi. Budjang Salim kian terlupakan oleh zaman. Di hari 10 november pun bahkan makam Budjang Salim terlihat sepi tanpa penziarah.
“Orang sekarang tidak mengerti lagi tentang pentingnya menghargai jasa pahlawan. Mereka sudah tidak tahu-menahu tentang sejarah.” Ungkap Atjeh Neksom dengan nada kecewa.
Atjeh selalu berharap makam ayahnya ada pengunjung. Ia juga berharap agar makam ayahnya tidak hanya menjadi milik keluarga besar Budjang salim semata,atau milik orang Krueng Geukuh saja, tetapi juga milik Aceh Utara, dan Aceh pada umumnya.
“Setidaknya, anak-anak SD sekarang dibawa kemari oleh guru-gurunya. Supaya mereka tidak buta sejarah dan mau menghargai jasa-jasa pahlawan. Saya hanya bisa berharap semoga saja makam ini akan ada terus orang yang menjaga dan merawatnya, meski nanti saya sudah tak ada.” Ujarnya.
Demikian pesan Atjeh Neuksom. Ia memandang bahwa di luar sana ada banyak pahlawan “tanpa sepuluh November” lainnya yang namanya tidak begitu terdengar. Mereka bisa saja ulama, atau veteran. Mereka memang tidak tercatat sebagai pahlawan, namun apa yang telah diperjuangkan layak diberikan penghargaan.
Langit petang mulai menghitam. Suara Azan magrib yang berasal dari mesjid Budjang Salim terdengar jelas. Sambil bangun dari duduknya, perempuan berkacamata itu pamit masuk ke dalam rumah nya. Dia menggambil mukenanya dan bergegas menuju mesjid untuk melaksanakan shalat magrib. Suara Azan magrib dari mesjid Budjang Salim itupun semakin merdu. Semakin syahdu, memecah kebisingan Kota Krueng Geukuh. []

Sabtu, 20 Juli 2013

Misteri Orang Aceh Penembak Jendral Kohler di Masa Penjajahan

Pada tahun 1873, Belanda mengeluarkan maklumat perang terhadap Aceh. Perang ini merupakan perang terlama dan paling melelahkan yang pernah dilakoni oleh Belanda.

Pendaratan pertama Belanda di Aceh (1873), disambut Pertempuran hebat oleh Tentara Kesultanan Aceh Darussalam.

Dimulai agresi Belanda pertama terhadap Aceh tahun 26 Maret 1873, Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Kohler berhasil mendarat di pantai Ulee Lheu setelah mematahkan pertahanan pantai Kesultanan Aceh.

Pasukan Belanda kemudian bergerak menuju pusat ibu kota kerajaan, Kutaradja (Banda Aceh saat ini-red). Kedatangan Belanda ini mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh.

Namun karena persenjataan Belanda yang lengkap membuat pejuang Aceh terpaksa mundur, dan Belanda berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Beberapa sumber disebutkan, saat itu pasukan ekspedisi Belanda berkekuatan 5.000 orang.

dikutip dari sebuah sumber pada tanggal 14 April 1873, ketika Jenderal Kohler sedang menginspeksi pasukan Belanda di areal mesjid tersebut, tiba-tiba seorang pejuang Aceh dengan posisi merunduk melepaskan tembakan dari jarak 100 meter dan mengenai jantung sang jenderal.

Kohler roboh di bawah pohon Geulumpang atau kelumpang yang tumbuh di halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Pohon tersebut oleh pihak Belanda dinamakan Kohlerboom atau pohon Kohler.

Pelaku penembakan Kohler diketahui seorang remaja Laskar Aceh berusia 19 tahun yang bersembunyi di reruntuhan masjid.

Peristiwa tersebut tentu mengejutkan pasukan Belanda dan beritanya tersebar luas keseluruh dunia, terutama Eropa pada waktu itu.
Sementara menurut kisah sang pahlawan atau sniper penembak jenderal Kohler tersebut gugur ditembak pasukan Belanda beberapa saat setelah kejadian.

*****
MISTERI siapa nama penembak Kohler hingga kini masih tersimpan erat. Namun menurut Teuku Nukman, 68 tahun, cucu Imum Lueng Bata, yang pernah diwawancarai beberapa waktu lalu, sang penembak jitu tersebut bernama Teungku Imum Lueng Bata.

“Banyak orang dan juga media tidak menuliskan siapa sebenarnya penembak misterius Jenderal Kohler,” ujarnya.
Teungku Imum Lueng Bata merupakan pemimpin Kemu****n Lueng Bata. Pemimpin tersebut bernama asli Teuku Nyak Radja. Ia anak Teungku Chik Lueng Bata. Dulunya Lueng Bata daerah bebas dan berada langsung di bawah kesultanan.

Nukman menduga karena saat itu suasana tidak kondusif, para pengikut sepakat melindungi pimpinannya. “Maka, penembak Kohler juga dirahasiakan. Lagi pula namanya juga sniper, kan pastinya sifatnya rahasia,” ujar Nukman.

Jarak Imum Lueng Bata dengan Kohler, kata Nukman, sekitar 100 meter. Ia menilai hanya senjata seadanya yang dipakai Lueng Bata untuk menembak. Teuku Njak Radja hanya melepaskan satu tembakan dan tepat mengenai lensa keker Kohler. Peluru tembus ke dada dan Kohler meregang sembari berkata, “Oh God ik ben getroffen (Oh Tuhan Aku Kena)”.

Yang tidak diketahui Nukman hingga sekarang adalah tempat Imum Lueng Bata dikubur. Referensi sejarah menyebutkan Imum Lueng Bata meninggal dalam pengejaran tentara Belanda, tetapi tak jelas lokasinya.

“Ada yang berpendapat kalau beliau meninggal di Geulumpang Minyeuk, Pidie. Hanya Allah yang tahu artinya mengapa beliau tidak diketahui makamnya. Mungkin agar beliau tetap terlindungi dari pengejaran Belanda saat itu,” ujar Nukman.

http://www.jurukunci.net/2013/05/misteri-orang-aceh-penembak-jendral.html

Insripsi yang tertulis di badan makam Kesultanan Aceh Darussalam komplek kandang XII

Minggu, 05 Mei 2013

Menikmati Jejak Puteri Pahang di Kutaradja

THE GLOBE JOURNAL

Sabtu, 30 Maret 2013 12:10 WIB
 
BANDA ACEH - Tak bisa menghabiskan liburan akhir pekan yang panjang ke luar kota atau ke tempat hiburan lainnya karena isi kantong yang menipis, di saat akhir bulan seperti ini? Sepertinya hal ini tidak menjadi masalah buat warga Kota banda Aceh. Walau tak bisa berlibur ke tempat-tempat wisata dl uar kota, namun mereka bisa menikmati hiburan menarik di pusat kota Banda Aceh.

Tepatnya di Taman Putroe Phang, Banda Aceh. Setiap akhir pekan, di taman yang asri ini selalu ada pertunjukkan seni. Selain bermain, pengunjung bisa menikmati berbagai atraksi seni, di panggung Art and Music Weekend Show.

Namun untuk akhir pekan ini, pertunjukkan menjadi lebih panjang. Pertunjukkan seni sudah dimulai sejak hari Jumat kemarin, karena bertepatan dengan tanggal merah dan hari libur nasional. Sejak dulu, taman yang satu ini memang menjadi tempat bermain bagi warga Kota Banda Aceh. Namun sejak dicanangkannya Tahun Kunjungan Wisata Kota Banda Aceh pada 2012 yang lalu, taman ini dipermak menjadi lebih cantik. Lokasi ini pun menjadi salah satu destinasi wisata bagi para wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh.

Di Taman ini pun nukilan sejarah kekuasaan kerajaan Aceh ditorehkan. Dan, hingga saat ini masih bisa dilihat dan disaksikan oleh masyarakat. Ikatan Sejarah Aceh-Malaysia Taman Putroe Phang (Putri Pahang) adalah taman yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pembangunan dilakukan atas permintaan Putroe Phang (Putri Kamaliah) permaisuri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Kerajaan Pahang, Malaysia.

Taman ini dibangun karena Sultan sangat mencintai permaisurinya sehingga sang permaisuri tidak kesepian bila di tinggal sultan menjalankan pemerintahan. Di dalam Taman Putroe Phang terdapat Pintoe Khop merupakan pintu yang menghubungkan istana (Meuligoe) dengan Taman Putroe Phang yang berbentuk kubah. Di mana di bawahnya mengalir anak sungai Krueng Daroy, yang selalu dijadikan oleh sang permaisuri sebagai tempat berenang dan bercengkrama bersama dayang-dayangnya.

Pintoe Khop ini merupakan tempat beristirahat Putroe Phang, setelah lelah berenang, letaknya tidak jauh dari Gunongan (sebuah taman bermain permaisuri) dan disanalah dayang-dayang membasuh rambut sang permaisuri. Di sana juga terdapat kolam untuk sang permaisuri keramas dan mandi bunga.

Sebagai seorang permaisuri, Putroe Phang memiliki kecakapan dan kebijaksanaan sehingga mahsyur di dalam masyarakat Aceh. Dalam menyelesaikan sengketa hukum, masyarakat sering meminta pendapatnya. Akibat, kebijaksanaan dan kecakapannya itulah, dia menjadi rujukan dalam penyelesaian masalah-masalah hukum. Atas kerja sama yang baik antara Sultan dan Putroe Phang-lah kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak keemasannya. Lalu, dengan kecerdasannya, Putroe Phang menjadi istri sekaligus penasihat Sultan terbaik.

Destinasi Wisata Historis
Saat ini pemerintah Kota Banda Aceh telah menjadikan Taman Putroe Phang, sebagai obyek wisata yang dilengkapi dengan tempat bermain anak-anak, dan lokasi pemancingan. Letaknya persis di tengah kota Banda Aceh, yakni di jalan Teuku Umar berhadapan dengan Kerkoff (komplek pemakanan tentara Belanda) .

Akses ke tempat ini sangat mudah karena letaknya di tengah-tengah kota dan bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Rahmi, seorang warga Neusu, Banda Aceh, mengaku hampir setiap minggu menghabiskan waktu akhir pekannya di taman bermain ini.

"Lokasinya tidak jauh dari rumah, dan ini menjadi tempat kunjungan utama bagi anak-anak saya, karena di sini juga atraksi kesenian setiap minggu jadi sangat menghibur," ujar Rahmi, usai menyaksikan sejumlah tontonan kesenian di Taman Putroe Phang, Jumat (29/3/2013) kemarin.

Samsul Rizal (34), warga Neuheun Kabupaten Aceh Besar, juga berpendapat yang sama. Selain tempat hiduran dan liburan yang murah, lokasi ini juga menjadi sarana belajar sejarah yang asyik bagi anak-anak. "Jadinya mereka lebih tahu akan sejarah kerajaan Aceh, kalau tidak begini, sejarah ini akan hilang suatu saat, itu akan sangat disayangkan," jelas ayah satu putri ini.

Di akhir pekan yang panjang ini misalnya. Sejumlah atraksi musik yang dipertontonkan oleh grup-grup. band lokal ternama, cukup memukau para pengunjung. Selain itu ditampilkan juga atraksi tarian daerah dan kemahiran breakdance oleh anak-anak usia 10 hingga 15 tahun. "Sungguh senang bisa tampil disini, penontonnya banyak," sebut Haris, seorang perfomer breakdance junior klub Funky Naughty.

Jadi, jika Anda sedang berada di Kota Banda Aceh, pastikan anda tidak melewatkan situs sejarah yang satu ini. Selain mengetahui sejarah kerajaan aceh, anda juga bisa menikmati suasana alam yang asri dan sejuk di taman ini. [1-kompas]

Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu; Penentang paham Arya Bakoy



 

BOY NASHRUDDIN AGUS  Senin, 29 April 2013 08:20:00 WIB

Ratu Nihrasiyah berhasil menjadikan Kerajaan Samudra Pasai sebagai pembangun awal tamaddun Kerajaan Islam mengikuti jejak ayahnya


Makam Ratu Nihrasyiah.@Ist

KALIGRAFI ayat-ayat Alquran terukir di makam yang terletak dalam komplek Makam Raja-raja Samudra Pasai. Makam itu merupakan makam terindah diantara lainnya dengan kaligrafi bernilai seni tinggi dan mengangumkan. Salah satu ukiran kaligrafi itu tertulis Ratu Nihrasiyah Khadiyu. Dia memerintah Samudra Pasai di tahun 801 Hijriyah hingga 831 Hijriyah. Jika menilik tahun masehi, ratu ini memerintah di 1400 hingga 1428.

Merujuk catatan sejarah karangan Ali Hasjmy dalam bukunya Wanita Aceh; sebagai negarawan dan panglima perang, tertulis Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu merupakan malikah atau sultanah terakhir dari Kerajaan Islam Samudra Pasai. Dia merupakan putri kandung Sultan Zainal Abidin Malikul Dhahir yang memerintah Samudra tahun 750 Hijriyah hingga 796 Hijriyah atau 1350 hingga 1395.

Sultan Zainal Abidin Malikud Dhahir mangkat dalam pertempuran perebutan kekuasaan oleh panglimanya, Laksamana Nagur Rabath Abdulkadir Syah. Sang Laksamana ini kemudian berhasil dibunuh oleh perwira bawahannya, Arya Bakoy. Dia merupakan Sayhbandar Samudra Pasai. Setelah berhasil membunuh pembunuh Sultan, dia meminang janda Sultan Zainal Abidin Malikud Dhahir dan menjadi ayah tiri Ratu Nihrasiyah.

Masih menurut Ali Hasjmy, atas jasanya Arya Bakoy kemudian diangkat menjadi Perdana Menteri Kerajaan Samudra Pasai dengan gelar Maharaja Bakor Ahmad Permala.

Sejalan dengan kekuasaannya di pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai, Arya Bakoy ternyata menganut ajaran yang menyimpang. Dia menasbihkan diri sebagai pengikut Wahdatul Wujud yang jauh menyimpang dari ajaran aslinya.

Lebih 40 ulama dibunuh karena menentang ajarannya. Arta Bakoy sesuai pahamnya berkeinginan menikahi putri kandungnya yang cantik, Putri Madoong Peria.
Paham yang dianut Arya Bakoy ditentang oleh Ratu Nihrasiyah. Karena itu dirinya hendak menggulingkan kekuasaan ratu.

Mendengar tindakan makar ini, Nihrasiyah kemudian memerintahkan untuk menangkap Arya Bakoy. Terjadilah pertempuran besar antara pasukan Arya Bakoy dengan pasukan pengawal istana yang setia kepada Ratu.

Pasukan kerajaan ini dipimpin suami Ratu Nihrasiyah, Malik Mustafa yang bergelar Pocut Cindai Simpul Alam. Pasukan Arya Bakoy dapat dihancurkan, dan Arya Bakoy tewas saat berduel dengan Malik Mustafa.
Sejak itu, Ratu Nihrasiyah berhasil menjadikan Kerajaan Samudra Pasai sebagai pembangun awal tamaddun Kerajaan Islam mengikuti jejak ayahnya. Pada tahun 1611 Masehi, Samudra Pasai bergabung dalam Kerajaan Aceh Darussalam menegakkan Islam dan menjadikan daerah ini sebagai pusat Islam di nusantara.[]

Sumber : Ali Hasjmy, Wanita Aceh; sebagai negarawan dan panglima perang.